1 September 2012

Tidak terasa bulan September ini tepat setahun berlalu sejak saya masih memakai kemeja putih-lengan panjang beserta rok hitam panjang dengan sepatu hitam dan berbagai perlengkapan khas ospek angkatan kami yang disesuaikan dengan warna fakultas kedokteran di Universitas tempat saya 'mencakar' dan 'melahap' ilmu-ilmu yang dapat menorehkan huruf 'D' dan 'R' untuk bertengger di depan nama saya.

Pertama kali mendengar kata 'Ospek' Universitas bayangan yang terlintas saat itu adalah 'Horror' , memang mungkin hal seperti ini sudah lantas sering terjadi ketika pertama kali kita memulai menduduki bangku SMP maupun SMA, akan tetapi saat itu dengan mendengar berbagai cerita berdasarkan pengalaman beberapa rekan maupun orang-orang yang sudah berpengalaman, serasa kata 'horror' itu sudah terbingkai jelas di dalam otak saya dan mungkin sudah sejak kelas 11 SMA dimana semua siswa labil banyak yang memperbincangkan mengenai masa-masa perkuliahan.

Berbicara seputar Ospek, yang disebutkan sebagai PPSPP yang berlangsung selama dua hari penuh makna itu, sangat jauh dari kata 'horror' pada kenyataannya, ya, memang tentu ada saja ulah kami yang membuat para senior agak naik darah, ya maklum saja, namanya juga junior, tidak luput dari kesalahan, dan itulah khasnya Ospek, sarat akan hubungan 'unik' ini.

Masih teringat jelas saat Ospek hari pertama, kami semua bergabung sesuai dengan kelompok masing-masing dan dengan wajah-wajah polos, masing-masing dari kami saling memperkenalkan diri. Saat itu para orang tua masih setia menunggu anak-anaknya hingga akhir PPSPP gelombang terakhir ( sore hari ) kebetulan saya salah satunya. Banyak sekali dari kami yang kalang kabut membeli berbagai kelengkapan Ospek, antara lain tas yang terbuat dari karung goni, sandal jepit warna hijau, peralatan tulis yang sarat dengan warna hijau, dan masih banyak lagi tugas yang diberikan pada kami, entah itu tugas individual maupun kelompok, tapi saya termasuk yang santai dalam menjalaninya, malah lucunya Mama saya yang terlihat lebih sibuk dan kalang kabut dibandingkan saya.

Ada hal yang berkesan sebenarnya di Ospek hari pertama waktu itu, ya tentu saja diluar pakaian kami yang di seragamkan, yaitu, istilah-istilah yang diucapkan oleh senior yang tergabung dalam kepanitiaan PPSPP 2011, salah satunya yaitu istilah 'Nasi lalu lintas' jujur saja saya benar-benar baru mendengarnya, dan lucunya yang pertama kali terlintas saat itu adalah 'bagaimana saya memberikan zat pewarna ke dalam nasi tersebut dan memakannya?', tetapi setelah agak lama berpikir akhirnya saya baru menyadari kalau nasi merah dan nasi kuning itu ada, hanya memang nasi hijau saya juga baru mendengarnya, terdengar agak 'ke-antah-berantahan' memang.Setelah pulang dari kegiatan seharian itu saya bersama dengan Mama saya segera 'take off' untuk menuju ke salah satu swalayan terdekat di daerah sekitar kost saya,dan bagaikan orang yang sedang mendapatkan hadiah berbelanja sepuasnya selama batas waktu yang ditentukan ( teringat salah satu acara 'Reality Show' ) kami pun mendapatkan apa yang dibutuhkan. Selain tugas membawa bekal dan sebagainya, kami juga telah diberikan tugas individu, yaitu menuliskan isi siaran berita di salah satu saluran TV swasta, dan diharuskan siaran berita itu pukul 03.00 WIB, sembari menunggu banyak juga tugas-tugas yang harus dilengkapi, antara lain, membuat 'name-tag', menuliskan sejarah yang bersangkutan dengan Universitas kami. Lengkaplah sudah hari itupun saya tidur hanya dalam hitungan menit. Hari kedua pun tiba, banyak hal yang berkesan pula pada hari itu, hari dimana saya mendapatkan hukuman dari para senior, bagaimana tidak, hari itu saya datang terlambat, dan juga 'name-tag' yang saya gunakan pada hari itu tidak di 'laminating' yang berarti tidak sama dengan anggota kelompok saya yang lainnya, ya pada akhirnya saya pun hanya bisa menerima, yang salah yang bertanggung jawab, rasa malu sejenak muncul di benak, akan tetapi rasa tanggung jawab yang menutupinya. Hari itu setelah kami semua berkumpul dan mendapat arahan dari Senior kami, kami pun diarahkan menuju ke Auditorium Fakultas untuk menerima arahan lanjutan yang sudah disiapkan dengan matang oleh para panitia PPSPP pada saat itu.

Setelah semua kegiatan Ospek berakhir saya pun pulang ke rumah kost untuk beristirahat, karena harus menerima kenyataan bahwa keesokan harinya adalah hari untuk melaksanakan kuliah perdana. Banyak hal yang terjadi semasa kuliah tahun pertama, dimana saya mendapatkan teman-teman baru dan 'teman-teman baru' lainnya ya, teman dalam tanda kutip seperti, buku-buku tebal khas fakultas kedokteran, cadaver, bau formalin, hafalan yang begitu banyak, dan yang pasti ber-'teman' dengan yang namanya dunia malam, maklum semenjak kuliah bergadang itu suatu kewajiban, karena entah kenapa, pulang kuliah walau dipaksakan belajar pun, pasti otak tidak siap menerimanya, otak hanya men-sugesti kita dengan sarana paling nyaman sedunia, yaitu tempat tidur.

Dunia perkuliahan pun tidak lepas dari peran para dosen, dan kita mahasiswa diwajibkan untuk memperluas pengetahuan yang sudah dijelaskan oleh dosen melalui tatap muka di kelas, tutorial kelompok, maupun seminar yang biasanya dilaksanakan setelah beberapa kali tutorial, dengan mempresentasikan hasil tutorial kelompoku dan didiskusikan dalam forum, itu memang yang seharusnya, akan tetapi masih banyak juga mahasiswa, ya termasuk saya ini, yang belum pandai mengkaji dan mengolah, apalagi memperluas ilmu pengetahuan yang sudah ada dengan mencari di berbagai referensi misalnya dari diktat, 'e-book', maupun internet tetapi malah terpaku dengan buku modular yang berisi 'slide-slide' materi dosen yang memang sudah diperlihatkan pada saat tatap muka di kelas. Memang ada beberapa dosen yang mungkin menganggap sah-sah saja selama mahasiswanya mengerti, akan tetapi ada pula dosen yang tidak menghendaki hal itu, dan menurut saya mungkin itu yang kadang dapat memperberat dan meng'kelirukan' pola pikir mahasiswa dalam hal belajar, yang menyebabkan tidak sedikit mahasiswa baru, yang agak lama untuk menyesuaikan pola belajar yang baik di fakultas kedokteran. Bisa disebutkan bahwa adanya perbedaan persepsi, antara dosen yang menginginkan mahasiswanya untuk berpengetahuan luas, Mahasiswa yang ( mayoritas ) ingin mengejar IP dan juga diantaranya adalah masalah waktu. Ya, pada kenyataanya memang mahasiswa tahun pertama seperti saya ini, lebih banyak menyalahkan waktu, daripada sibuk mencari ilmu, ya, namanya juga masih sangat labil.

Tidak bisa disangkal memang, sistem perkuliahan semakin berubah seiring berjalannya waktu, dan fakultas kedokteran pun tidak terlepas dari aturan itu, dengan sistem modul yang diterapkan di fakultas ini, semakin mempersingkat waktu yang ada dipakai. Bayangkan saja, pada tahun-tahun yang jauh mundur kebelakang, untuk bisa mencapai gelar dokter saja dibutuhkan waktu lebih dari 7 tahun, sedangkan dengan sistem per modul ini diharapkan mahasiswanya bisa menjadi dokter dalam kurun waktu maksimal 6 tahun, hitung saja berapa total waktu yang berhasil di tekan.

Tapi semuanya kembali kepada individu masing-masing, karena toh yang memilih fakuktas kedokteran juga diri kita sendiri,jadi harus siap dengan berbagai 'efek-efeknya'. Dan saya cuma berharap agar dapat menjadi yang saya impikan tepat pada waktunya, sekurang-kurangnya jangan sampai putus di tengah jalan, memasuki tahun kedua dan sampai sumpah dokter nanti pun ( amin ) itu semua sebenarnya belum seberapa, karena kehidupan yang sebenarnya adalah setelah itu.

Ta

ichyhapanOpuss № I